Berita

Tsunami Terjadi di 5 Wilayah Usai Gempa M 7,6 Sulut, Tertinggi 0,75 Meter

25

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara (Sulut) memicu tsunami di lima wilayah, dengan tinggi gelombang tertinggi tercatat mencapai 0,75 meter. Data ini diumumkan setelah instrumen pengukur muka air laut mendeteksi anomali permukaan laut di sejumlah titik usai guncangan besar yang terjadi pada Kamis (2/4/2026) pagi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan tsunami yang terukur tergolong tsunami minor, tetapi tetap berbahaya, terutama bagi kawasan pesisir, teluk sempit, dan wilayah kepulauan yang berpotensi mengalami amplifikasi gelombang. Karena itu, meski tinggi gelombang tidak mencapai kategori ekstrem, warga di wilayah pesisir tetap diminta waspada dan mengikuti arahan evakuasi saat peringatan dini dikeluarkan.

BMKG Catat 5 Wilayah Alami Tsunami

Berdasarkan data pengamatan muka air laut, lima titik yang mencatat tsunami setelah gempa M 7,6 di Sulut adalah:

  • Halmahera Barat: 0,30 meter
  • Bitung: 0,20 meter
  • Sidangoli: 0,35 meter
  • Minahasa Utara: 0,75 meter
  • Belang: 0,68 meter

Dari lima titik tersebut, Minahasa Utara menjadi lokasi dengan gelombang tertinggi, disusul Belang. Meski angkanya tampak kecil di atas kertas, BMKG mengingatkan bahwa karakter geografis wilayah timur Indonesia—yang dipenuhi pulau kecil, teluk, dan pesisir sempit—dapat membuat dampak lokal terasa lebih besar daripada tinggi gelombang yang tercatat alat ukur.

Gempa M 7,6 Picu Kepanikan di Sulut dan Malut

Gempa besar ini dilaporkan mengguncang kuat wilayah Sulawesi Utara hingga Maluku Utara, dan memicu kepanikan warga di sejumlah daerah pesisir. Di beberapa lokasi, warga berhamburan keluar rumah dan bangunan, sementara di kawasan pantai, laporan surutnya air laut sempat menambah kepanikan karena dianggap sebagai tanda awal tsunami.

Salah satu momen yang paling menyita perhatian terjadi di Pulau Lembeh, Bitung, ketika air laut dilaporkan naik ke area permukiman setelah gempa. Rekaman video warga yang berlarian menyelamatkan diri juga sempat beredar luas dan memperlihatkan betapa cepat situasi berubah di wilayah pesisir usai gempa kuat.

Peringatan Dini Tsunami Sempat Dikeluarkan

Usai gempa utama, BMKG segera mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Sulut dan Maluku Utara. Pada fase awal, beberapa daerah berstatus siaga, sementara wilayah lain berada pada level waspada, tergantung potensi tinggi gelombang dan karakter pesisir masing-masing daerah.

Namun setelah pemantauan lanjutan menunjukkan ancaman mulai mereda, BMKG kemudian mencabut peringatan dini tsunami. Meski begitu, otoritas tetap menekankan bahwa warga tidak boleh langsung kembali ke pesisir sebelum ada pengumuman resmi, karena gelombang susulan dan perubahan muka air laut bisa saja terjadi dalam periode tertentu pascagempa besar.

Gempa Susulan Terus Terjadi

Selain tsunami, ancaman lain yang muncul setelah gempa utama adalah gempa susulan (aftershock) yang terus berlangsung. Laporan terbaru menyebut jumlah gempa susulan mencapai ratusan kali, dengan magnitudo bervariasi dari kecil hingga cukup terasa oleh warga. Ini menandakan sistem tektonik di kawasan tersebut masih aktif setelah pelepasan energi utama.

Kondisi ini penting karena gempa susulan dapat memperparah kerusakan bangunan yang sudah lebih dulu melemah akibat gempa utama. Oleh sebab itu, warga diimbau tidak terburu-buru masuk ke bangunan yang retak, miring, atau mengalami kerusakan struktural sebelum ada pemeriksaan dari pihak berwenang.

Dampak Gempa Tak Hanya Tsunami

Gempa M 7,6 ini tidak hanya memicu tsunami minor, tetapi juga menyebabkan kerusakan bangunan dan korban jiwa. Laporan awal menyebut satu warga di Manado meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara sejumlah fasilitas umum, rumah, kantor pemerintahan, dan bangunan layanan publik dilaporkan mengalami kerusakan di beberapa wilayah terdampak.

Beberapa rumah sakit, kantor pemerintahan, rumah warga, dan fasilitas umum juga sempat mengalami gangguan operasional atau kerusakan fisik akibat getaran kuat. Kondisi ini membuat pemerintah daerah bersama BPBD, BNPB, dan unsur tanggap darurat lainnya bergerak cepat melakukan asesmen serta penanganan awal di lokasi terdampak.

Mengapa Tsunami di Bawah 1 Meter Tetap Berbahaya?

Banyak orang mengira tsunami baru berbahaya jika gelombangnya tinggi seperti yang sering terlihat dalam bencana besar. Padahal, tsunami dengan tinggi di bawah 1 meter pun tetap bisa menimbulkan arus sangat kuat, genangan mendadak, dan gangguan serius bagi permukiman atau fasilitas di pesisir. Dalam banyak kasus, justru arus dan kecepatan air menjadi faktor paling berbahaya, bukan semata tinggi gelombang.

Itulah sebabnya BMKG tetap menegaskan pentingnya respons cepat masyarakat setiap kali peringatan dini tsunami dikeluarkan. Keterlambatan evakuasi, meski hanya beberapa menit, bisa sangat menentukan di wilayah pesisir yang dekat dengan sumber gempa.

Kesimpulan

Gempa M 7,6 di Sulawesi Utara menjadi pengingat bahwa kawasan timur Indonesia tetap berada di jalur rawan gempa dan tsunami. Meski gelombang yang tercatat kali ini tergolong tsunami minor, dampaknya tetap nyata dan memicu kepanikan, kerusakan, hingga korban jiwa. Data lima titik tsunami dengan puncak 0,75 meter menunjukkan bahwa ancaman bencana pesisir tetap harus ditangani serius, sekecil apa pun gelombangnya.

Exit mobile version