Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengenang almarhum Juwono Sudarsono sebagai sosok ilmuwan besar yang tenang, cerdas, dan memiliki pengaruh kuat dalam dunia pertahanan serta akademik Indonesia. Ucapan duka dan penghormatan itu muncul setelah kabar wafatnya Juwono Sudarsono menyebar luas pada Sabtu (28/3).
Kepergian Juwono Sudarsono bukan hanya menjadi kehilangan bagi kalangan pemerintahan dan pertahanan, tetapi juga bagi dunia kampus. Selama hidupnya, ia dikenal bukan sekadar pejabat negara, melainkan juga seorang pemikir yang memberi warna besar pada diskursus pertahanan, hubungan internasional, dan kebijakan publik di Indonesia.
Mahfud Soroti Ketenangan dan Kedalaman Ilmu Juwono
Dalam kenangannya, Mahfud menempatkan Juwono Sudarsono bukan hanya sebagai mantan pejabat tinggi negara, tetapi juga sebagai akademisi dengan reputasi yang kuat. Penilaian “ilmuwan besar yang tenang” menggambarkan karakter Juwono yang selama ini dikenal tidak meledak-ledak, tetapi memiliki kedalaman pemikiran yang kuat dan dihormati banyak kalangan.
Sosok seperti Juwono memang jarang muncul dalam lanskap politik modern. Ia dikenal mampu menjembatani dunia akademik dan dunia pemerintahan tanpa kehilangan integritas intelektualnya. Dalam banyak kesempatan, Juwono dipandang sebagai figur yang lebih memilih argumentasi, gagasan, dan pendekatan ilmiah ketimbang retorika politik semata.
Karakter itu pula yang membuat namanya tetap dihormati lintas generasi, baik oleh sipil, militer, akademisi, maupun tokoh pemerintahan yang pernah bekerja bersamanya.
Jejak Juwono Sudarsono di Pemerintahan
Juwono Sudarsono memiliki rekam jejak panjang dalam pemerintahan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta dua kali menjadi Menteri Pertahanan di era pemerintahan yang berbeda. Ia juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris.
Di bidang pertahanan, namanya punya tempat khusus dalam sejarah Indonesia. Juwono dikenal sebagai salah satu tokoh sipil paling berpengaruh yang pernah memimpin Kementerian Pertahanan. Ia juga kerap disebut sebagai salah satu simbol penting penguatan kontrol sipil dalam tata kelola pertahanan nasional pascareformasi.
Posisi itu membuat warisan Juwono bukan hanya administratif, tetapi juga konseptual. Ia membantu membentuk cara pandang Indonesia dalam melihat pertahanan sebagai bagian dari tata kelola negara demokratis, bukan semata urusan alat utama sistem persenjataan atau operasi militer.
Bukan Hanya Menteri, tapi Juga Akademisi Kelas Dunia
Salah satu hal yang membuat Juwono Sudarsono menonjol dibanding banyak pejabat lain adalah latar belakang akademiknya yang sangat kuat. Ia menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dan meraih gelar doktor dari London School of Economics and Political Science. Ia juga dikenal aktif mengajar dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu hubungan internasional dan studi pertahanan.
Bagi banyak kalangan, Juwono adalah contoh langka pejabat publik yang tidak kehilangan kualitas intelektual saat berada di lingkar kekuasaan. Ia tetap dipandang sebagai ilmuwan, penulis, pemikir strategis, sekaligus birokrat yang memahami medan kebijakan nyata.
Itulah sebabnya, ungkapan Mahfud tentang Juwono sebagai “ilmuwan besar” terasa relevan. Julukan itu bukan sekadar penghormatan personal, tetapi cerminan dari posisi Juwono dalam sejarah pemikiran kebijakan publik Indonesia.
Figur Sipil yang Disegani di Dunia Pertahanan
Di sektor pertahanan, Juwono Sudarsono punya reputasi yang sangat khas. Ia merupakan salah satu tokoh sipil yang mampu mendapat respek luas dalam bidang yang secara tradisional sangat dekat dengan institusi militer. Hal itu tidak datang secara instan, melainkan dibangun dari kapasitas intelektual, pengalaman birokrasi, dan kemampuan komunikasinya.
Dalam konteks inilah, warisan Juwono menjadi penting. Ia hadir sebagai contoh bahwa pertahanan negara bisa dikelola dengan pendekatan strategis, akademik, dan demokratis. Di tengah perubahan geopolitik global dan tantangan keamanan kawasan, pendekatan seperti itu justru semakin relevan.
Wafatnya Juwono Jadi Kehilangan Besar
Kabar wafatnya Juwono Sudarsono pada Sabtu, 28 Maret 2026, memunculkan gelombang belasungkawa dari banyak kalangan. Sejumlah tokoh nasional, akademisi, dan pengamat pertahanan menilai kepergiannya sebagai kehilangan besar bagi Indonesia. Ia wafat di Jakarta dan kabar tersebut dikonfirmasi melalui sumber resmi dari lingkungan pertahanan.
Bagi publik, nama Juwono mungkin lebih dikenal lewat jabatan-jabatannya di pemerintahan. Namun bagi kalangan yang mengikuti isu pertahanan dan hubungan internasional, ia adalah salah satu arsitek pemikiran strategis Indonesia yang pengaruhnya terasa jauh melampaui masa jabatannya.
Ucapan Mahfud MD yang menyebut Juwono Sudarsono sebagai “ilmuwan besar yang tenang” merangkum dengan tepat sosok almarhum: cerdas, bersahaja, berwibawa, dan meninggalkan warisan intelektual yang kuat.
Di tengah dunia politik yang sering riuh, Juwono Sudarsono dikenang justru karena ketenangan, pikiran jernih, dan kedalaman ilmunya. Warisan itu membuat namanya kemungkinan akan terus hidup, bukan hanya dalam catatan sejarah pemerintahan, tetapi juga dalam perkembangan pemikiran pertahanan Indonesia.
