Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4), menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 orang dalam salah satu gelombang serangan paling mematikan sejak konflik terbaru pecah. Serangan ini menghantam sejumlah wilayah, termasuk Beirut, Lembah Beqaa, Gunung Lebanon, serta kawasan Lebanon selatan.
Menurut laporan sejumlah media internasional dan kantor berita, militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 target dalam waktu singkat. Sasaran disebut terkait dengan infrastruktur dan posisi milik Hizbullah, kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon. Namun, otoritas Lebanon menyebut banyak korban merupakan warga sipil yang berada di kawasan padat penduduk.
Beirut dan Lebanon Selatan Jadi Sasaran Utama
Ledakan besar dilaporkan terdengar di beberapa bagian Beirut selatan, terutama di wilayah Dahiyeh, yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah. Selain ibu kota, serangan juga menyasar sejumlah area strategis di timur dan selatan Lebanon, memperluas skala konflik yang sebelumnya sempat terkonsentrasi di titik-titik tertentu.
Kementerian Kesehatan Lebanon dan otoritas pertahanan sipil menyatakan jumlah korban kemungkinan masih bisa bertambah karena proses evakuasi dan pencarian korban di bawah reruntuhan masih berlangsung. Rumah sakit di beberapa kota dilaporkan kewalahan menangani lonjakan korban luka.
Serangan Terjadi di Tengah Ketegangan Ceasefire
Eskalasi terbaru ini terjadi hanya beberapa jam setelah muncul perkembangan diplomatik terkait gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, situasi menjadi rumit karena muncul perbedaan tafsir mengenai apakah Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut atau tidak.
Pemerintah Israel disebut tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon dengan alasan menargetkan ancaman dari Hizbullah. Di sisi lain, pihak Iran dan sejumlah pihak regional memandang serangan ini sebagai ancaman serius terhadap upaya meredakan konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Kecaman Internasional Menguat
Gelombang serangan Israel ke Lebanon memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Palang Merah Internasional menyatakan “marah” dan prihatin atas tingginya korban jiwa serta kehancuran di kawasan padat penduduk. Sejumlah pihak menilai serangan tersebut memperbesar risiko krisis kemanusiaan baru di Lebanon.
Selain itu, beberapa negara dan organisasi internasional menyerukan penghentian segera serangan serta perlindungan bagi warga sipil. Situasi di lapangan dinilai sangat rapuh, terutama karena jutaan warga Lebanon masih hidup dalam bayang-bayang pengungsian dan kerusakan infrastruktur akibat konflik berkepanjangan.
Konflik Israel-Lebanon Kian Membesar
Serangan terbaru ini disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak konflik Israel-Hizbullah kembali memanas pada awal Maret 2026. Sejak saat itu, bentrokan lintas perbatasan, serangan udara, dan balasan roket terus terjadi, memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional yang lebih luas.
Dengan jatuhnya ratusan korban dalam satu hari, Lebanon kini menghadapi tekanan keamanan dan kemanusiaan yang semakin berat. Bila tidak ada langkah diplomatik yang efektif, eskalasi ini berpotensi menyeret lebih banyak pihak ke dalam konflik terbuka di kawasan Timur Tengah.
