Hacker Iran Serang Raksasa Alat Medis AS, 200.000 Perangkat Terhapus
Sebuah serangan siber besar mengguncang perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat, Stryker Corporation, setelah kelompok hacker yang diduga terkait Iran mengklaim berhasil menghapus data dari lebih dari 200.000 perangkat dan sistem internal milik perusahaan tersebut.
Serangan ini diklaim dilakukan oleh kelompok peretas bernama Handala, yang menyatakan telah menembus jaringan internal perusahaan dan menghapus data pada server, laptop, hingga perangkat mobile yang terhubung dengan sistem perusahaan.
200.000 Sistem Dilaporkan Terhapus
Dalam pernyataan yang dipublikasikan secara online, kelompok hacker tersebut mengklaim telah menghapus lebih dari 200.000 sistem, server, dan perangkat mobile, sekaligus mencuri sekitar 50 terabyte data sensitif dari jaringan perusahaan.
Serangan ini disebut menggunakan teknik “wiper attack”, yakni jenis malware yang dirancang untuk menghapus data secara permanen, berbeda dengan ransomware yang biasanya mengenkripsi data untuk meminta tebusan.
Akibat serangan tersebut, banyak karyawan dilaporkan tidak dapat mengakses komputer dan smartphone kerja mereka karena perangkat tiba-tiba terhapus atau tidak dapat digunakan. Gangguan ini juga menyebabkan operasional perusahaan terganggu di berbagai wilayah dunia.
Operasional Global Terganggu
Stryker Corporation merupakan salah satu perusahaan alat kesehatan terbesar di dunia yang memproduksi alat bedah, implan ortopedi, hingga teknologi saraf yang digunakan oleh rumah sakit di berbagai negara.
Perusahaan yang bermarkas di Michigan, Amerika Serikat, ini memiliki sekitar 56.000 karyawan dan beroperasi di lebih dari 60 negara, serta mencatat pendapatan tahunan lebih dari US$25 miliar.
Pihak perusahaan mengonfirmasi adanya gangguan jaringan global yang memengaruhi lingkungan sistem Microsoft internal mereka. Namun hingga saat ini, perusahaan menyatakan tidak menemukan indikasi ransomware dan masih menyelidiki dampak penuh dari serangan tersebut.
Diduga Terkait Konflik Geopolitik
Kelompok hacker yang mengaku bertanggung jawab menyebut serangan tersebut sebagai aksi balasan terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk insiden serangan militer yang menewaskan puluhan warga di Iran.
Para pakar keamanan siber menilai insiden ini menunjukkan meningkatnya perang siber antarnegara, di mana perusahaan swasta yang terlibat dalam rantai pasok penting—seperti industri kesehatan—menjadi target strategis.
Serangan terhadap perusahaan teknologi medis juga menimbulkan kekhawatiran karena sektor kesehatan merupakan infrastruktur kritis yang berhubungan langsung dengan keselamatan pasien di seluruh dunia.
