Internasional

Trump Ejek NATO Macan Kertas, Ngeluh Korsel-Jepang Ogah Perangi Iran

10

Presiden AS Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah mengejek NATO sebagai “paper tiger” atau “macan kertas”, di tengah memanasnya konflik dengan Iran. Trump juga secara terbuka mengeluhkan sejumlah sekutu utama Amerika Serikat, termasuk Jepang dan Korea Selatan, yang dinilai tidak mau ikut terlibat langsung dalam perang melawan Iran.

Pernyataan keras itu muncul ketika Trump terus menekan sekutu-sekutu AS agar ikut membantu membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi nadi pasokan energi dunia. Namun alih-alih mendapat dukungan militer penuh dari blok Barat dan sekutu Asia, Trump justru menghadapi penolakan, kehati-hatian, atau dukungan yang sangat terbatas dari banyak negara. Selat Hormuz

Trump Sebut NATO “Macan Kertas”

Dalam laporan media internasional, Trump melontarkan kritik yang sangat tajam terhadap NATO karena menganggap aliansi itu tidak menunjukkan dukungan nyata ketika AS menghadapi Iran. Bahkan dalam salah satu pernyataannya, Trump menegaskan bahwa “tanpa AS, NATO adalah macan kertas”—sebuah kalimat yang langsung mengguncang dunia diplomasi trans-Atlantik.

Kalimat tersebut bukan hanya sindiran biasa. Dalam bahasa geopolitik, menyebut NATO sebagai “paper tiger” berarti Trump menganggap aliansi militer paling kuat di dunia itu terlihat besar di atas kertas, tetapi lemah saat diuji dalam konflik nyata. Pernyataan ini otomatis memicu kekhawatiran baru soal masa depan hubungan AS dengan Eropa, apalagi karena Trump sebelumnya juga sudah berulang kali mengancam akan mengurangi komitmen Washington terhadap NATO.

Kenapa Trump Marah ke Sekutu?

Akar kemarahan Trump cukup jelas: ia ingin negara-negara sekutu ikut membantu operasi untuk mengamankan atau membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah konflik dengan Iran mengganggu lalu lintas energi global. Bagi Trump, negara-negara yang selama ini menikmati perlindungan keamanan dan manfaat ekonomi dari stabilitas global seharusnya juga ikut menanggung risiko ketika krisis benar-benar pecah.

Namun banyak sekutu AS punya pandangan berbeda. Negara-negara Eropa pada umumnya lebih mendorong de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik, bukan ikut masuk ke perang yang mereka tidak rancang sejak awal. Dalam laporan Reuters, para pemimpin Eropa disebut enggan mengirim kekuatan militer langsung ke konflik Iran, meski tetap mendukung kebebasan navigasi dan stabilitas regional.

Trump Juga Singgung Jepang dan Korea Selatan

Yang membuat situasi makin sensitif, Trump tidak hanya menyerang NATO, tetapi juga menyinggung sekutu-sekutu utama AS di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. Menurut laporan AP dan Wall Street Journal, Trump mengeluhkan negara-negara itu tidak bersedia ikut ambil bagian dalam operasi melawan Iran, meskipun mereka juga sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah.

Dari sudut pandang Trump, posisi Jepang dan Korea Selatan terasa tidak adil: mereka ikut terdampak jika harga minyak naik atau Selat Hormuz terganggu, tetapi tidak ingin menanggung risiko militer langsung. Bagi banyak negara Asia sendiri, sikap hati-hati itu cukup logis karena konflik Iran dipandang terlalu jauh, terlalu berisiko, dan terlalu rumit untuk dimasuki secara terbuka.

Masalahnya Bukan Sekadar Perang, Tapi Soal Minyak Dunia

Kemarahan Trump ke NATO, Jepang, dan Korea Selatan tidak bisa dipisahkan dari satu isu besar: energi. Selat Hormuz adalah salah satu jalur laut paling penting di dunia, karena sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah itu. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga minyak, biaya logistik, dan inflasi global.

Karena itulah Trump memandang operasi membuka kembali jalur tersebut sebagai sesuatu yang “mudah” dan seharusnya bisa dibantu sekutu. Tetapi bagi negara-negara lain, keterlibatan militer langsung di sekitar Iran bukan persoalan teknis sederhana, melainkan keputusan strategis besar yang bisa menyeret mereka ke perang kawasan dengan konsekuensi jangka panjang.

Apa Dampaknya ke Hubungan AS dengan Sekutu?

Pernyataan Trump ini berpotensi memperburuk hubungan AS dengan dua poros sekutu utamanya sekaligus: Eropa dan Asia Timur. Untuk Eropa, serangan verbal terhadap NATO menghidupkan lagi ketakutan lama bahwa Washington di bawah Trump bisa menjadi mitra yang tidak stabil dan sangat transaksional. Untuk Asia, kritik terhadap Jepang dan Korea Selatan menambah kecemasan bahwa komitmen keamanan AS bisa semakin bergantung pada kesediaan sekutu ikut agenda perang Washington.

Reuters bahkan melaporkan bahwa kemarahan Trump terkait Iran telah mendorong NATO ke salah satu krisis terbarunya. Ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah kini tidak hanya mengguncang kawasan itu sendiri, tetapi juga ikut menggoyang fondasi aliansi keamanan global yang sudah berdiri puluhan tahun.

Apakah Trump Benar-Benar Bisa Tinggalkan NATO?

Secara politik, ancaman Trump selalu menimbulkan efek besar. Namun secara hukum, langkah AS untuk benar-benar keluar dari NATO tidak sesederhana itu. Reuters melaporkan ada hambatan hukum domestik di AS, termasuk aturan yang membatasi presiden untuk menarik AS keluar dari NATO tanpa dukungan Kongres.

Meski begitu, banyak analis menilai ancaman semacam ini tetap sangat berbahaya. Alasannya, bahkan tanpa benar-benar “keluar”, seorang presiden AS tetap bisa melemahkan NATO dari dalam—misalnya dengan mengurangi dukungan militer, komitmen logistik, atau sinyal politik terhadap kewajiban pertahanan kolektif. Itulah yang membuat pernyataan Trump kali ini dianggap jauh lebih serius daripada sekadar gaya bicara keras biasa.

Kesimpulan

Ucapan Trump yang mengejek NATO sebagai “macan kertas” dan keluhannya terhadap Jepang serta Korea Selatan yang enggan ikut memerangi Iran menegaskan satu hal: konflik Iran kini bukan cuma soal perang di Timur Tengah, tetapi juga soal retaknya solidaritas sekutu Amerika Serikat.

Bagi pasar, diplomasi, dan keamanan global, pernyataan seperti ini punya dampak besar. Ia bukan hanya memengaruhi citra NATO, tetapi juga mengirim pesan bahwa di bawah Trump, dukungan AS terhadap sekutu bisa semakin bersyarat, keras, dan penuh tekanan politik. Jika tren ini berlanjut, dunia bisa melihat bukan hanya perang yang meluas—tetapi juga tatanan aliansi global yang makin goyah.

Exit mobile version