Ekonomi

Pemerintah Siapkan Antisipasi Jika Harga Minyak Dunia Naik Tajam

4

Pemerintah menyiapkan berbagai skenario fiskal untuk mengantisipasi dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap APBN 2026 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa

telkomtelstra.co.idJakarta – Pemerintah Indonesia mulai mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memberi tekanan pada kondisi fiskal nasional, terutama terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa lonjakan harga minyak berpotensi memengaruhi keseimbangan anggaran negara. Karena itu, Kementerian Keuangan telah menyiapkan sejumlah skenario untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di pasar energi global.

Salah satu simulasi yang dilakukan pemerintah adalah apabila harga minyak mentah dunia bertahan di kisaran rata-rata USD 92 per barel selama satu tahun penuh.

Dalam kondisi tersebut, defisit APBN diperkirakan bisa meningkat hingga sekitar 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika pemerintah tidak mengambil langkah penyesuaian kebijakan.

Purbaya menjelaskan bahwa perhitungan tersebut merupakan hasil simulasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengukur potensi dampak terhadap anggaran negara.

Meski demikian, ia menilai kondisi fiskal Indonesia masih relatif stabil apabila kenaikan harga minyak tidak terlalu ekstrem. Misalnya, jika harga minyak berada di sekitar USD 72 per barel, pemerintah masih memiliki ruang untuk mengendalikan dampaknya.

Angka tersebut masih berada di atas asumsi dasar harga minyak dalam APBN yang dipatok sekitar USD 60 per barel.

Menurut Purbaya, pemerintah memiliki berbagai instrumen kebijakan fiskal yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas anggaran jika harga energi global mengalami kenaikan.

Indonesia Pernah Menghadapi Lonjakan Harga Minyak

Purbaya juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman menghadapi gejolak harga energi di masa lalu. Pada periode sebelumnya, harga minyak dunia bahkan sempat melonjak hingga mencapai sekitar USD 150 per barel.

Meski kondisi tersebut sempat memperlambat pertumbuhan ekonomi, perekonomian nasional tetap mampu bertahan tanpa mengalami penurunan yang drastis.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar keyakinan pemerintah bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah fluktuasi harga energi global.

Harga Minyak Dunia Mulai Naik

Sementara itu, harga minyak mentah global mulai mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat menembus level sekitar USD 81 per barel, naik lebih dari 8 persen dalam satu hari dan menjadi kenaikan harian terbesar sejak tahun 2020.

Di sisi lain, harga minyak acuan dunia Brent juga mengalami kenaikan hingga mencapai sekitar USD 85 per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh gangguan pasokan energi global setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap jalur distribusi minyak strategis seperti Selat Hormuz.

Sejumlah laporan juga menyebutkan adanya serangan terhadap kapal tanker minyak serta ancaman penutupan jalur pelayaran tersebut yang berpotensi memicu ketidakstabilan pasokan energi dunia.

Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga energi dalam beberapa waktu ke depan.

Exit mobile version