telkomtelstra.co.id, Medan – Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga minyak dunia akan terus mengalami kenaikan menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Penutupan jalur pelayaran penting tersebut dinilai mengganggu distribusi minyak global dan berpotensi menekan pasokan di pasar internasional.
Menurut Ibrahim, harga minyak mentah global berpeluang mencapai sekitar USD100 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent yang menjadi acuan utama harga minyak internasional diprediksi bisa menembus level USD150 per barel apabila situasi geopolitik tidak segera mereda.
Ia menjelaskan bahwa penutupan jalur strategis tersebut berdampak langsung pada produksi dan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, sejumlah negara penghasil minyak di wilayah tersebut dikabarkan mulai menurunkan tingkat produksinya.
Di sisi lain, Amerika Serikat disebut tengah mempertimbangkan kebijakan untuk mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran. Langkah tersebut dinilai bertujuan agar suplai minyak mentah Iran dapat kembali masuk ke pasar global sehingga membantu menstabilkan pasokan.
Ibrahim menilai lonjakan harga minyak mentah berpotensi memicu inflasi secara global. Kenaikan harga energi biasanya akan berdampak pada berbagai sektor, terutama logistik, transportasi, dan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Ketegangan Geopolitik Global Berpotensi Meluas
Selain konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, ketegangan geopolitik juga diperkirakan meningkat setelah muncul isu kemungkinan Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Kuba.
Situasi tersebut dipicu oleh insiden penembakan terhadap warga sipil Amerika yang diduga dilakukan oleh pejabat Kuba. Peristiwa ini memicu ketegangan baru yang berpotensi menambah ketidakpastian di tingkat global.
Kondisi geopolitik yang memanas tersebut juga dinilai dapat mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakstabilan pasar.
AS Ingin Harga Minyak Tetap Stabil
Meski harga minyak berpotensi melonjak, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tidak menginginkan harga energi meningkat terlalu tinggi. Dalam pidato awal masa kepemimpinannya, Trump menargetkan harga minyak rata-rata berada di kisaran USD50 per barel.
Salah satu opsi kebijakan yang dipertimbangkan adalah melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Iran agar produksi minyak negara tersebut dapat kembali masuk ke pasar internasional dan meningkatkan suplai.
Langkah ini juga diperkirakan dapat membuka peluang bagi Rusia untuk menambah ekspor minyaknya ke pasar global sehingga membantu menjaga stabilitas harga. Namun, stabilitas tersebut tetap bergantung pada kemampuan Rusia dalam memenuhi target produksi di tengah gangguan distribusi dari kawasan Timur Tengah.
Peran Penting Selat Hormuz bagi Pasokan Minyak Dunia
Penutupan Selat Hormuz memiliki dampak besar terhadap rantai pasokan energi global. Jalur laut ini merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.
Setiap hari, sekitar 140 juta barel minyak dikirim melalui selat tersebut. Jumlah itu setara dengan sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia atau hampir 1,4 hari kebutuhan minyak global.
Ibrahim menilai apabila penutupan jalur tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, maka sangat mungkin harga minyak Brent melonjak hingga USD150 per barel, sementara harga minyak mentah lainnya dapat mencapai USD100 per barel.
Menurutnya, dampak kenaikan harga energi ini tidak hanya dirasakan pada sektor industri, tetapi juga pada berbagai sektor lain seperti penerbangan dan transportasi udara yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak.











