Seorang tentara penjaga perdamaian asal Perancis yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan tewas dalam sebuah serangan bersenjata di wilayah Lebanon selatan. Insiden ini diduga melibatkan kelompok militan Hezbollah, meski pihak terkait membantah keterlibatan langsung.
Kejadian tragis tersebut berlangsung pada 18 April 2026 di desa Ghandouriyeh, saat pasukan UNIFIL tengah menjalankan misi pembukaan jalur logistik menuju pos yang terisolasi. Serangan dilakukan secara tiba-tiba dan diduga merupakan penyergapan bersenjata jarak dekat.
Korban tewas diketahui merupakan prajurit Perancis bernama Florian Montorio. Selain itu, tiga tentara lainnya mengalami luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi serius.
Diduga Diserang Hizbullah, Namun Dibantah
Presiden Perancis Emmanuel Macron secara tegas menyatakan bahwa indikasi awal mengarah pada keterlibatan Hizbullah dalam serangan tersebut. Ia juga mendesak pemerintah Lebanon untuk segera mengusut tuntas dan menangkap pelaku.
Namun, Hizbullah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak terlibat dalam insiden itu. Kelompok tersebut meminta agar semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan sebelum hasil investigasi resmi keluar.
Terjadi di Tengah Gencatan Senjata Rapuh
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah diberlakukannya gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon yang dimulai pada 16 April 2026. Kondisi keamanan di wilayah tersebut masih sangat rentan, dengan potensi konflik yang sewaktu-waktu dapat kembali memanas.
UNIFIL sendiri menyebut serangan ini sebagai tindakan yang “disengaja” oleh aktor non-negara, yang semakin menambah kekhawatiran terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian internasional.
Ketegangan Regional Semakin Meningkat
Insiden ini memperpanjang daftar serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. Sebelumnya, beberapa personel UNIFIL dari berbagai negara juga menjadi korban dalam konflik yang terus meningkat di kawasan tersebut.
Ketegangan regional semakin kompleks karena konflik yang melibatkan Israel, Hizbullah, dan dinamika geopolitik yang lebih luas, termasuk pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
Reaksi Internasional
Pemerintah Lebanon dan militer setempat turut mengecam serangan tersebut dan menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh. PBB juga menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius hukum internasional.
Presiden Macron menegaskan bahwa keamanan pasukan UNIFIL harus menjadi prioritas dan meminta langkah tegas untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.











