Internasional

Dubes UAE Ingatkan Indonesia Tidak Kebal dari Dampak Perang AS-Israel Vs Iran

27
×

Dubes UAE Ingatkan Indonesia Tidak Kebal dari Dampak Perang AS-Israel Vs Iran

Sebarkan artikel ini

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, mengingatkan bahwa Indonesia tidak kebal dari dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Menurutnya, eskalasi perang di kawasan Timur Tengah dan gangguan terhadap Selat Hormuz dapat memukul perdagangan global, harga energi, hingga rantai pasok yang pada akhirnya ikut dirasakan Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Abdulla dalam konferensi pers di Jakarta Selatan pada Rabu (8/4). Ia menegaskan bahwa krisis di Teluk bukan lagi persoalan regional semata, melainkan masalah internasional karena jalur laut strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu nadi utama distribusi minyak dan gas dunia.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Dampak Global

Abdulla menjelaskan, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair melintasi Selat Hormuz. Selain itu, sebagian besar ekspor energi dari kawasan Teluk ke Asia juga melewati jalur tersebut. Jika lalu lintas pelayaran terganggu, efeknya bisa langsung terasa pada harga bahan bakar, ongkos logistik, hingga harga barang impor di banyak negara, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, ancaman itu bukan sekadar isu geopolitik jauh di luar negeri. Sebagai negara yang masih sensitif terhadap gejolak harga energi global dan biaya pengiriman internasional, gangguan berkepanjangan di Hormuz berpotensi memicu tekanan pada inflasi, biaya industri, serta aktivitas perdagangan luar negeri.

UEA: Tak Ada Negara yang Benar-Benar Aman

Dalam pernyataannya, Abdulla menegaskan bahwa tidak ada satu pun negara yang benar-benar kebal dari konsekuensi perang dan gangguan jalur perdagangan dunia. Menurutnya, saat arus logistik dan energi terganggu, negara-negara di Asia pun akan ikut terkena imbas, baik melalui kenaikan biaya distribusi maupun penyesuaian harga komoditas strategis.

Ia juga menekankan bahwa persoalan ini harus dipahami sebagai ancaman terhadap stabilitas ekonomi global, bukan hanya konflik militer antarnegara. Karena itu, UEA bersama negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) dan mitra regional lain menyerukan upaya diplomatik agar eskalasi tidak semakin meluas.

Perang AS-Israel Vs Iran Berisiko Menekan Ekonomi RI

Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah memunculkan kekhawatiran baru di pasar global, terutama terkait pasokan energi dan keamanan jalur pelayaran. Dalam beberapa pekan terakhir, isu penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz beberapa kali memicu ketidakpastian di pasar minyak dunia. UEA sendiri secara terbuka menegaskan bahwa penggunaan Selat Hormuz harus dijamin dalam setiap skema penyelesaian konflik dengan Iran.

Bila konflik membesar, Indonesia berpotensi menghadapi efek domino berupa naiknya biaya impor energi, terganggunya pasokan barang, dan tekanan pada sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Situasi ini juga bisa berdampak pada nilai tukar dan biaya produksi dalam negeri bila gejolak berlangsung lama.

Seruan Diplomasi dan Deeskalasi

UEA mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi dan kerja sama internasional untuk mencegah konflik berubah menjadi krisis yang lebih luas. Abdulla menegaskan bahwa stabilitas kawasan Teluk penting bukan hanya bagi negara-negara Arab, tetapi juga bagi ekonomi dunia yang terhubung erat dengan pasokan energi dan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Bagi Indonesia, peringatan dari Dubes UEA ini menjadi sinyal bahwa perang di Timur Tengah bisa berdampak langsung ke kehidupan domestik, mulai dari harga BBM, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, hingga kondisi perdagangan internasional. Selama ketegangan belum benar-benar mereda, risiko rambatan ke ekonomi nasional masih perlu diwaspadai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *